oleh

Rakornas BNPB dan BPBD Tentang Penanganan Bencana Se- Indonesia

SURABAYA  – BNPB setiap tahun menggelar Rakornas BNPB dan BPBD Se-Indonesia untuk sinkronisasi program, ⁣
penyamaan persepsi dan gerak langkah penanganan bencana antara pusat dan ⁣
daerah.

Tahun ini diselenggarakan di ⁣
Jawa Timur Expo Surabaya, yang berlangsung pada 1 s/d 4 Februari 2019.⁣ Bupati Gayo Lues H.Muhammad Amru ikut serta pada kesempatan ini.

Rakornas resmi dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo yang menyatakan forum ini sangat strategis dalam mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan kekuatan yang dimiliki dalam kebencanaan.

Poin yang dibahas diantaranya,
Perencanaan, rancangan dan pembangunan ruang dalam rangka mitigasi bencana. Dengan melihat siklus bencana yang selalu berulang, tempatnya berada di lokasi yang sama. Misalnya di NTB pada tahun 1978, di Palu juga terjadi sebelumnya.

Ada siklus bencana, sehingga jika ada ruang atau tempat yang berbahaya jangan diperbolehkan pembangunan. Serta, Bappeda juga diajak untuk membangun bangunan tahan gempa jika berada di daerah rawan gempa.⁣

Selanjutnya melibatan akademisi, pakar-pakar kebencanaan untuk meneliti, melihat, mengkaji, titik mana yang sangat rawan bencana harus dilakukan secara masif. Agar l memprediksi ancaman dan mengantisipasi serta mengurangi dampak bencana. Libatkan akademisi dan pakar-pakar, jangan bekerja hanya saat terjadi bencana. Pakar di Indonesia meskipun tidak banyak tetapi ada, sehingga kita mengetahui adanya megathrust, pergeseran lempeng dan lain-lain. Setelah pakar berbicara, kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. ⁣

Kemudian apabila ada kejadian bencana, maka otomatis gubernur akan menjadi komandan satgas darurat bersama pangdam dan kapolda menjadi wakil komandan satgas. Jangan dikit-dikit naik ke pusat. ⁣

Seterusnya pembangunan sistem peringatan dini yang terpadu berbasiskan rekomendasi dari pakar harus dipakai, termasuk hingga ke level daerah. Kepala BNPB mengkoordinasikan K/L terkait agar sistem peringatan dini segera terwujud dan kita pelihara/rawat. Belajar dari Jepang, tidak panik saat gempa, baru berlari ketika ada sirine dan mengetahui jalur evakuasi.(ABDIANSYAH)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed